Adab Ziarah ke Makam Rasulullah ﷺ di Masjid Nabawi

Ditulis Tim Raudhahku · 16 September 2026

Bagi banyak jamaah Indonesia, berdiri di dekat tempat peristirahatan Rasulullah ﷺ adalah momen yang paling lama ditunggu sepanjang perjalanan. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan, dan ada pula kebingungan yang jarang diakui: harus berbuat apa, harus berkata apa, dan harus berdiri seperti apa.

Tulisan ini menemani Bapak dan Ibu pada bagian itu, dengan nada yang tenang dan tanpa berlebihan.

Yang paling utama: sikap sebelum ucapan

Sebelum membahas apa yang diucapkan, ada baiknya kita sepakati dahulu sikap yang dibawa. Berziarah ke tempat ini bukan kunjungan wisata, bukan pula kesempatan untuk memperbanyak cerita sepulangnya. Ia adalah momen menghadirkan rasa hormat kepada seorang manusia mulia yang lewat perantaraan beliau kita mengenal agama ini.

Karena itu, adab yang paling pokok justru yang paling sederhana: datang dengan tenang, berbicara seperlunya, menjaga suara, dan tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat perhatian. Sikap ini akan menuntun semua hal lain dengan sendirinya.

Satu hal yang kami pegang dalam menulis: kami tidak mencantumkan lafaz atau susunan ucapan tertentu yang tidak dapat kami sebutkan sumbernya. Yang kami sampaikan adalah urutan umum dan adabnya. Untuk lafaz yang terperinci beserta dalilnya, tanyakanlah kepada pembimbing ibadah atau ustaz yang Bapak dan Ibu percayai.

Mengucap salam kepada tiga pribadi mulia

Kebiasaan yang dijalani jamaah dari berbagai negeri di tempat ini adalah mengucapkan salam secara berurutan kepada tiga pribadi: Rasulullah ﷺ, kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, kemudian Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu.

Sampaikan dengan suara lirih

Salam tidak perlu dikeraskan. Suara pelan sudah cukup, dan justru lebih menjaga suasana bagi jamaah lain yang sedang khusyuk. Meninggikan suara di tempat ini tidak menambah kesungguhan sedikit pun.

Ucapkan dengan hormat, bukan dengan tergesa

Petugas biasanya mengarahkan jamaah agar terus berjalan supaya barisan tidak berhenti. Ikutilah arahan itu sambil tetap mengucapkan salam dengan penuh hormat. Berhenti lama di satu titik akan menahan ratusan orang di belakang yang juga ingin menyampaikan hal yang sama.

Sertakan doa untuk diri sendiri setelahnya

Setelah mengucapkan salam, banyak jamaah melanjutkan dengan berdoa untuk dirinya, keluarganya, dan kaum muslimin. Doa tersebut ditujukan kepada Allah semata, dengan bahasa apa pun yang paling dipahami hati Bapak dan Ibu.

Hal yang sebaiknya dijauhi

  • Berdesakan dan mendorong. Menyakiti sesama muslim bukanlah cara menghormati Rasulullah ﷺ.
  • Mengusap atau menempelkan badan pada bangunan. Selain menimbulkan kepadatan, perbuatan ini kerap ditegur petugas.
  • Mengambil foto dan video. Di area Raudhah berlaku larangan memotret dan merekam yang ditegakkan petugas. Di bagian lain masjid pun, kesopanan tetap menuntut agar ponsel tidak mendominasi kunjungan.
  • Menghabiskan waktu untuk merekam ketimbang berdoa. Momen ini terlalu berharga untuk ditukar dengan kiriman pesan singkat.
  • Berdebat soal perbedaan pendapat di lokasi. Tempat itu bukan ruang diskusi; simpanlah pertanyaan untuk ditanyakan di kesempatan lain.

Ada yang ingin ditanyakan soal adabnya?

Kami dengan senang hati berbincang mengenai persiapan ziarah Bapak dan Ibu, termasuk mengatur rombongan keluarga agar tidak terpencar. Bertanya tidak dipungut biaya dan tidak mengikat.

Tanya Dulu via WhatsApp

Catatan penting yang perlu dibaca pelan-pelan

Ada satu kabar yang sangat sering beredar di kalangan jamaah Indonesia: bahwa jamaah laki-laki dapat berziarah ke makam Rasulullah ﷺ tanpa izin khusus, kapan saja masjid terbuka. Kabar ini banyak dilaporkan oleh jamaah yang sudah pulang, dan pengalaman mereka tentu tidak kami ragukan.

Namun kami perlu berterus terang: ketika kami mencoba menelusurinya ke sumber resmi, kami tidak menemukan penegasan yang dapat dikutip. Karena itu, kalimat yang kami pakai adalah umumnya, bukan “aturannya”. Umumnya jamaah laki-laki melaporkan dapat berziarah ke area makam tanpa izin khusus, sedangkan memasuki Raudhah tetap memerlukan izin yang terbit melalui Nusuk.

Mengapa kami serepot ini? Karena perbedaan antara “umumnya begitu” dan “aturannya begitu” sangat terasa di lapangan. Jamaah yang menganggap sesuatu sebagai aturan akan marah dan kecewa ketika kenyataannya berbeda. Jamaah yang tahu bahwa itu sekadar pengalaman umum akan lebih siap menerima apa pun yang terjadi di hari kunjungannya.

Satu kekeliruan lain yang perlu diluruskan

Sering pula terdengar anggapan bahwa memasuki Masjid Nabawi mengharuskan izin Nusuk. Ini tidak benar. Yang memerlukan izin adalah kunjungan ke area Raudhah, bukan memasuki masjidnya. Perbedaan ini kerap menimbulkan kecemasan yang tidak perlu bagi jamaah yang baru pertama kali datang.

Untuk memahami mengapa hanya area itu yang diatur ketat, ada baiknya membaca uraian kami mengenai batas dan luas area Raudhah yang ternyata jauh lebih kecil daripada bayangan kebanyakan orang.

Menghadapi keramaian dengan kepala dingin

Area di sekitar tempat ini hampir selalu ramai, dan kepadatannya berubah-ubah sepanjang hari. Petugas, yang oleh jamaah Indonesia biasa disebut askar, bertugas menjaga arus jamaah agar tetap bergerak dan tidak menumpuk pada satu titik. Arahan mereka kadang terdengar tegas, dan itu wajar dalam ruang yang begitu padat.

Cara paling menenangkan menghadapinya adalah menganggap arahan tersebut sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai penolakan. Ikuti alur barisan, jangan berhenti mendadak, dan jangan membalikkan badan melawan arus karena hal itu justru membuat jamaah di belakang terhimpit. Bila terpisah dari rombongan, tetaplah tenang dan menuju titik berkumpul yang sudah disepakati sebelumnya.

Satu hal lagi yang sering terlupa: ceritakan rencana ini kepada anggota keluarga yang baru pertama kali berangkat, terutama yang sudah sepuh. Mereka yang tahu apa yang akan dihadapi jauh lebih siap secara mental daripada yang datang tanpa gambaran sama sekali.

Menyusun urutan kunjungan yang tenang

Bagi Bapak dan Ibu yang waktunya di Madinah tidak banyak, menyusun urutan sejak awal akan sangat membantu. Beberapa hal yang biasa kami sarankan:

  • Jangan menumpuk seluruh agenda ziarah pada hari terakhir; sediakan satu hari cadangan bila keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
  • Sepakati titik berkumpul bersama rombongan sebelum berpisah, karena sesi jamaah pria dan wanita memang dipisahkan.
  • Bila ada jamaah lanjut usia, rencanakan pendampingannya. Otoritas Masjid Nabawi mengizinkan penggunaan kursi roda manual bagi mereka.
  • Siapkan kondisi badan sejak dari tanah air; cara melatihnya kami bahas pada tulisan persiapan hati dan fisik sebelum berkunjung.

Adapun bimbingan saat berada di dalam area Raudhah — menunaikan shalat sunnah bila memungkinkan dan berdoa dengan tenang — kami uraikan pada panduan shalat dan doa di Raudhah.

Terakhir, sebagaimana selalu kami ulang: ketentuan dapat berubah sewaktu-waktu. Periksalah kembali keterangan yang ditampilkan aplikasi Nusuk terbaru sebelum berangkat, dan jangan mengeklik tautan yang mengatasnamakan Nusuk yang datang lewat pesan — ketik sendiri alamat resminya di peramban.

Biar rencana ziarahnya lebih tertata

Ceritakan rencana perjalanan Bapak dan Ibu, nanti kami bantu petakan urutannya dan bagian mana yang memerlukan izin. Gambaran layanan pendampingan kami dapat dilihat di halaman utama Raudhahku. Penerbitan izin tetap dilakukan Nusuk tanpa pungutan dari pemerintah Arab Saudi.

Konsultasi Gratis via WhatsApp